Di era serba digital, gadget menjadi kebutuhan bagi semua kalangan. Dari orang tua, muda-mudi, hingga anak-anak. Di tengah itulah, Kak Harris Rizki tetap semangat untuk selalu mengedukasi dan menghibur anak-anak dengan mendongeng.
SESEORANG berpenampilan cukup nyentrik. Memakai jubah hitam, topi sulap hitam, dan kacamata hitam. Kumisnya yang tebal juga hitam pekat.
Hidungnya besar. Meski warnanya lebih terang dari kulit aslinya. Lelaki itu sibuk bicara. Tetapi, tidak dengan orang. Melainkan, dengan boneka bertopi koboi merah muda.
Bertatap-tatapan setiap saat. Bahkan, si boneka yang lebih banyak bicara itu terkesan cerewet. Nyaris tak terdengar jelas lantaran ritme bicaranya cepat sekali.
”Iya, itu petugas keamanan kereta api. Kalau kalian mau dijahati orang, bisa teriak yang kenceng. Nanti petugas keamanannya datang,” kata lelaki itu membalas pertanyaan si boneka.
Itulah perbincangan Kak Harris Rizki dengan Ayis, si boneka tangan miliknya. Aksi itu disaksikan puluhan anak TK yang hadir di area playground Stasiun Gubeng, Surabaya, Jumat, 22 Juli 2022.
Kak Harris memang diundang PT KAI Daop 8 Surabaya. Yakni, untuk membuka acara lomba mewarnai. Acara itu digelar guna memperingati Hari Anak Nasional pada 23 Juli.
Total 35 anak menjadi peserta lomba. Mereka berasal dari tujuh TK di Surabaya. Selain antusias mewarnai, mereka tampak riang menyimak dongeng Kak Harris. Sesekali muncul gelak tawa ketika Ayis mengeluarkan celetukan-celetukan yang lucu.
Mendengar dongeng seperti menjadi hal yang langka bagi anak-anak. Itu, antara lain, dirasakan sendiri oleh Aqila Farah dari TK Aisyiyah 20. Anak perempuan berusia 6 tahun itu baru pertama menyaksikan penampilan juru dongeng.
Meski juga doyan mendengar cerita, Aqila lebih sering mendapatkannya dari YouTube. Kadang cerita-cerita lawas seperti Si Kancil maupun tayangan kartun. ”Biasanya lihat di HP mama,” katanyi.
Ya, kini anak-anak memang akrab dengan gadget. Tak jarang mereka dikenalkan oleh para orang tua. Bahkan, kerap ditemui orang tua yang lebih suka memberikan gadget sebagai penawar dari tangisan anak-anak.
”Jelas lebih sering ngasih gadget daripada mendongengkan cerita untuk anak-anak. Karena mungkin lebih praktis ya,” kata Harris. Namun, fenomena seperti itulah yang justru membuatnya prihatin. Sebab, menyangkut pola asuh yang kurang sehat.
Menurutnya, banyak orang tua yang jarang memperhatikan anak karena kesibukan kerja. Akibatnya, malah jarang punya momen komunikasi yang intens. Apalagi, mendongengkan cerita kepada anak-anak.
Padahal, dongeng merupakan media pembelajaran yang sangat baik. Melalui dongeng, hubungan orang tua dan anak bisa terbangun dengan kuat. ”Rasa kepercayaan anak-anak pun bisa dibangun dari mendongeng,” kata pria berusia 39 tahun itu.
Bahkan, anak-anak bisa mendapatkan perhatian langsung. Sekaligus menanamkan nilai-nilai sebagai fondasi penting kehidupan mereka kelak. Mengingat, selalu terkandung nasihat-nasihat maupun pesan moral dalam setiap cerita.
”Oleh karena itu, saya tetap ingin dan bertekad melestarikan dongeng,” tandasnya. Dalam mendongeng, Harris lebih cenderung membawakan cerita-cerita umum. Terutama yang lebih banyak disenangi orang-orang.
Juga, tentu saja menyesuaikan cerita dengan hari perayaan. Misalnya, saat Ramadan, ia lebih banyak membawakan cerita-cerita yang bertema Islam. Ada yang ia tulis sendiri dan ada yang diadaptasi dari buku cerita anak.
Harris pun menemukan tantangan-tantangan dalam mendongeng. Apalagi jika dibandingkan sepuluh tahun yang lalu. Hal-hal yang disukai anak-anak sudah jauh berbeda. Termasuk minat mereka untuk mendengarkan dongeng.
”Dulu anak kelas IV-V SD masih senang, kalau sekarang malah cenderung bosan dan meremehkan,” ungkapnya. Namun, Harris tak putus asa. Ia punya metode khusus jika diminta tampil di hadapan anak-anak seusia itu.
Biasanya, Harris akan lebih banyak melibatkan motorik anak-anak. Jadi, anak-anak tidak hanya mendengarkan. Tetapi, juga diminta bergerak dengan koreografi yang sudah disiapkan.
Misalnya, saat membawakan cerita butuh ekspresi menangis, Harris meminta anak-anak berekspresi serupa. Atau saat bercerita tentang perjalanan naik kereta, Harris mengajak anak-anak berdiri dan berbaris seperti kereta.
”Sejauh ini lumayan menarik buat mereka. Semoga saja bisa bertahan lama,” katanya.
Perjuangannya tak berhenti di situ. Harris pun mengunggah penampilan mendongengnya ke akun YouTube miliknya: Pendongeng Anak. ”Harapannya, mendongeng bisa bertahan menjadi alternatif hiburan bagi anak-anak,” katanya. (*)
Source : Harian Diaway
https://harian.disway.id/read/627259/kak-harris-si-juru-dongeng-asal-surabaya-tetap-mendongeng-meski-anak-anak-akrab-dengan-gadget/jambitv.disway.id